HENTIKAN WABAH HOAX CORONAVIRUS (COVID-19)

Sejak 30 Januari 2020 Badan Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa nCov-2019 (novel Coronavirus 2019) sekarang dinamakan resmi sebagai COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) sebagai Global Health Emergency. Penyebaran virus yang sekarang oleh ICTV (International Committee Taxonomy of Viruses) dinamakan SARS-Cov-2 ini  masih terus terjadi bahkan telah meluas ke berbagai negara diluar China. Hingga artikel ini dibuat beberapa fakta terkait “wabah” corona ini juga telah diketahui.

 Jumlah kasus sampai dengan tanggal 25 februari 2020 diseluruh negara terdampak adalah 80.150 orang, dengan angka kematian berjumlah 2.701, dan yang telah dinyatakan pulih sebanyak 27.668 orang. Death rate atau kemungkinan pasien meninggal karena terinfeksi virus tertinggi pada pasien dengan usia +80 tahun sebesar 14,8%. Dan faktor komorbid terbesar penyebab pasien meninggal dunia adalah komplikasi penyakit yang berkaitan dengan gangguan Cardiovascular. Pasien laki-laki lebih tinggi death rate nya dibandingkan perempuan dengan perbandingan 2,8% pada laki-laki dan 1,7% pada perempuan. Masih banyak fakta-fakta lain yang coba diungkap oleh peneliti, ahli virus dari berbagai belahan dunia untuk mencari dan memberikan informasi yang valid demi mencegah “kepanikan” dan misskomunikasi di masyarakat dunia.

Pada beberapa artikel yang telah dipublikasikan angka penularan dan penyebaran virus diyakini masih dapat bertambah seiring dengan bertambanya negara yang terdampak wabah virus ini, namun diyakini juga bahwa peningkatan jumlah kasus baru akan “menurun”. Disatu sisi ada kabar baik dari informasi ini karena sepertinya wabah ini akan segera berakhir, namun ada satu hal juga yang mengkhawatirkan yaitu di Indonesia belum ada 1 pun laporan kasus positif. Ini adalah salah satu isu yang menjadi topik yang ramai dibicarakan masyarakat dan perlu suatu informasi yang valid agar topik pembicaraan ini tidak menyebabkan munculnya hoax/berita bohong di masyarakat. Sayangnya informasi valid yang disediakan oleh pihak dan Lembaga yang kredibel ini pada saat ini masih kalah “cepat” dibandingkan informasi bohong / hoax terkait Coronavirus. Hoax ini menyebar melalui jaringan komunikasi internet dan memunculkan informasi serta  isu-isu yang mengkhawatirkan dan menyebabkan kepanikan masyarakat. Bahkan dalam beberapa kasus di media social, berita hoax terkait coronavirus menjadi bahan perdebatan yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari situasi “chaos” yang muncul akibat Coronavirus.

SARS-Cov-2 yang menjadi wabah di Wuhan China adalah “keturunan” dari virus SARS-Cov yang juga menjadi pandemic pada tahun 2003. SARS-Cov-2 diduga hasil perubahan struktur genetik dari Coronavirus terdahulu atau biasa disebut mutasi. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Jawaban secara sains adalah bahwa virus dapat bermutasi secara alami di alam, tidak ada yang bisa mencegah dan tidak ada pula yang bisa mengetahui kapan dan kenapa virus dapat bermutasi, namun yang pasti adalah perubahan struktur virus atau mutasi pasti terjadi di alam. Apakah bisa proses mutasi ini diatur oleh manusia ? ini adalah pertanyaan yang juga menjadi perdebatan di masyarakat seiring dengan munculnya isu terkait bioterorisme yan dilakukan oleh pihak-pihak tertentu, namun pada kenyataannya merubah genetic suatu mikroorganisme tidak semudah membalikan telapak tangan, meskipun ada kemungkinan namun kalau kita berpikir secara logis tidak mungkin manusia membuat suatu wabah demi mencari keuntungan bagi mereka sendiri.

Dunia maya juga heboh dengan perdebatan terkait gejala penyakit COVID-19 yang muncul di media social. Penampakan seperti zombie pada pasien positif corona dan juga kejang-kejang seperti orang yang mengamuk viral dan membuat masyarakat resah. Sebenarnya beberapa Lembaga kesehatan sudah menjelaskan bahwa gejala penyakit corona hampir sama dengan gejala infeksi saluran nafas pada umumnya, namun yang harus kita sadari dan pahami adalah kondisi fisik masing-masing orang berbeda, dan respon tubuh orang menghadapi penyakit juga berbeda. Kebanyakan dari pasien positif SARS-Cov-2 yang meninggal dunia adalah orang usia lanjut dengan penyakit komorbid gangguan cardiovascular/gangguan jantung. Dan kalau dilihat data sebenarnya derajat keparahan dari infeksi SARS-COv-2 ini lebih minimal dibandingkan para pendahulunya. Artinya fakto-faktor penyakit komorbid juga memegang peranan penting terhadap gejala klinis dari pasien yang terinfeksi virus ini.

Virus SARS-Cov-2 penyebab COVID-19 adalah penyakit zoonotic atau penyakit yang bersumber dan ditularkan dari binatang. Informasi ini juga banyak diperdebatkan bahkan muncul isu-isu bahwa kemunculan wabah corona adalah akibat konsumsi hewan-hewan liar yang ada di hutan dan dipasarkan di pasar hewan sehingga menular ke manusia. Isu ini sepertinya muncul karena  pendahulunya SARS-Cov ditularkan oleh kelelawar dan MERS-Cov oleh hewan unta, namun hingga saat ini penelitian-penelitian sedang dilakukan untuk menentukan hewan yang kemungkinan membawa virus ini. Dugaan ini mungkin benar karena seperti pendahulunya virus corona kebanyakan memang dibawa dan ditularkan melalui hewan. Namun mengambil kesimpulan dan menjudge berdasarkan informasi yang salah juga tidak dapat kita benarkan sehingga akan lebih bijak jika kita menunggu rilis resmi dari hasil penelitian dari Lembaga yang berwenang untuk mempublikasikan.

Cara Penularan virus Corona juga topik yang ramai dibicarakan dan didebatkan. SARS-Cov-2 telah dikonfirmasi oleh WHO dapat menular dari manusia ke manusia (human to human transmission) melalui kontak erat antara orang yang terjangkit dengan orang lain dalam lingkungan nya. Muncul kehebohan bahwa virus dapat menular melalui barang-barang yang dikirim dari china, bahkan sempat beredar kabar bahwa virus ini dapat menular melalui Handphone yang diproduksi oleh China, informasi ini jelas salah dan meresahkan. Penularan virus melalui benda mati memang sangat mungkin terjadi, Namanya Indirect Infection. Namun kemungkinan nya sangat kecil. Kenapa ? karna secara struktur sebenarnya virus SARS-Cov-2 adalah virus yang “ringkih”. Struktur virus ini mudah rusak dengan pemanasan pada suhu yang tidak terlalu tinggi dan paparan UV. Virus ini memiliki selubung dibagian luar yang dinamakan “Envelope” / amplop yang akan rusak jika terpapar suhu tinggi dan UV. Hal ini juga mendukung dugaan kenapa sampai sekarang Indonesia belum ditemukan kasus Corona. Secara geografis negara kita dilimpahi dengan cahaya matahari setiap harinya, jadi kemungkinan virus untuk mati sebelum bisa menginfeksi manusia. Karena pada dasarnya sifat virus adalah parasite obligat , hanya mampu hidup pada sel inangnya.

Cara identifikasi untuk memastikan keberadaan virus pada manusia yang diduga terinfeksi memegang peranan penting dalam penegakan diagnose infeksi corona. Satu-satunya metode yang direkomendasikan dan memiliki akurasi tinggi adalah menggunakan PCR (polymerase chain reaction) yaitu metode untuk memperbanyak materi genetic dari virus untuk kemudian dibandingkan dengan “control” untuk memastikan virus yang diidentifikasi. Berita tentang Indonesia tidak memiliki alat dan bahan yang dapat digunakan sempat juga menjadi trending topic dalam media social. PCR bukanlah barang mewah yang hanya ada di negara-negara superpower, Indonesia sudah memiliki alat ini bahkan di kampus sekalipun dan metode PCR sudah sangat familiar digunakan mulai dari level mahasiswa sampai dengan peneliti di Lembaga-lembaga kredibel di Indonesia. Jadi, ketika WHO dan Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa Indonesia sudah memiliki dan bisa melakukan identifikasi tidak seahrusnya kita meragukan dan mendebatkan ini.

Vaksin untuk mencegah virus SARS-Cov-2 memang belum ada, dan ini juga sempat menjadi bahan perdebatan, isu yang beredar adalah virus ini sengaja dibuat oleh para oknum sehingga mereka dapat membuat vaksinnya untuk kemudian dikomersialkan. Sayangnya , pengembangan vaksin adalah sesuatu yagn rumit dan memerlukan waktu bertahun-tahun dengan riset-riset mendalam terkait virus ini. Menghadapi virus corona cukup mudah karena sebenarnya jika keadaan fisik tubuh kita baik maka virus juga sulit untuk bisa menginfeksi dan berkembang biak didalam tubuh kita. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga kebersihan pribadi (personal hygiene) dan selalu memperhatikan sanitasi lingkungan dan menjaga pola hidup sehat.

Seperti yang orang bijak katakan, Informasi adalah Senjata, perlu pemahaman dan logika yang waras dalam menerima informasi terkait apapun khususnya terkait wabah corona agar tidak menjadi senjata yang mematikan dan meresahkan. Dengan arus informasi yang deras di era IoT (internet of things) ini mendorong kita agar lebih bijaksana dalam memilih, menyerap dan menyebarkan informasi. Jangan sampai penyebaran hoax lebih mengerikan dibanding penyebaran virus corona itu sendiri. Waspada perlu, Panik jangan.

author : Dian Nurmansyah

Leave a comment